"Kurang ajar, dengan kekuatanku saat ini tidak akan bisa menghadapi iblis itu. Kurasa kekuatan mahkluk ini tidak kalah dengan kekuatan ketua Monrest," batin pria tua tersebut sambil menyeka darah yang menetes dari mulutnya. Tubuhnya bergetar, dadanya sesak menahan rasa sakit. Seharusnya, dengan kekuatan di ranah Immortal menengah, dia bisa mengguncang dunia, bertindak sesuka hatinya dan mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah. Namun kenyataan di hadapannya jelas, sebuah tendangan sederhana saja dari makhluk hijau-hitam itu telah membuatnya tidak berdaya.

Meski ragu makhluk itu melepaskan dirinya, dia tidak punya pilihan lain. Mengeluarkan teknik terkuatnya pun dia tidak yakin dapat menghadapi sosok di depannya. Wajahnya menegang, sorot matanya dipenuhi rasa getir. Dengan suara berat ia berteriak, "Pergi!" suaranya terdengar lebih seperti perintah putus asa daripada keyakinan. Tanpa menoleh lagi, tubuhnya berkelebat, terbang meninggalkan kelompoknya begitu saja. Dia tanpa ragu meninggalkan rekannya yang lain, selain karena khawatir makhluk itu tiba-tiba menyerangnya, juga karena sebenarnya dia tidak ikut menjalankan misi. Niatnya hanya ingin mengikuti kelompok yang di pimpin oleh keponakannya agar dia dapat meminta seorang gadis muda untuk dapat dia nikmati, tapi kenyataannya, dia seolah bertemu tembok keras yang tidak bisa di hancurkan.

"Paman Jian..." teriak pemimpin perampok dengan wajah geram bercampur kekecewaan. Ia menggertakkan giginya keras, matanya bergetar penuh emosi. "Sial... bahkan pamanku sendiri meninggalkanku begitu saja!"

Pemimpin perampok itu, Baihuan Ming, menoleh ke sekeliling. Nafasnya memburu, tubuhnya bergetar di antara rasa takut dan kegelisahan. Matanya menyapu liar, mencari sosok wanita misterius yang diyakininya telah memanggil iblis itu. Namun yang ada hanyalah bayangan pepohonan dan tatapan kalut para anak buahnya.

Kepalanya mendadak dipenuhi kisah dari para tetua. Kisah tentang Dunia Surgawi dimana tingkat Immortal di dunia itu adalah gerbang awal menuju kekuatan sejati, menuju ranah tertinggi, Kaisar Dewa. Pamannya kini berada di ranah Immortal Pertengahan. Meski peningkatan kekuatannya didapatkan dengan cara tidak biasa, dengan mengorbankan orang-orang yang mereka tangkap selama ini, kekuatannya sebagai Immortal Pertengahan tidak di sanksikan lagi, namun dengan mudah pamannya di tendang hingga melarikan diri seperti anjing yang digebuki.

"Iblis ini... mungkinkah berasal dari dunia surgawi?" batinnya.

"Keparat... kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama," desisnya lirih. 

"Pergi! Kita tidak bisa menghadapi Iblis ini, kekuatannya sudah di ranah dewa." teriaknya kepada anak buah disekitarnya.

Dengan satu aba-aba, ia bergerak cepat kedalam hutan, tubuhnya melesat diikuti anak buahnya. Mereka semua berlari tunggang-langgang menembus hutan menuju arah yang di tuju oleh pamannya. Sepanjang perjalanan, Baihuan Ming beberapa kali menoleh ke belakang, keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Bayangan iblis hijau-hitam itu terus menghantui benaknya.

Akhirnya, setelah melarikan diri cukup jauh, ia terhuyung jatuh terduduk di atas sebuah batu besar. Nafasnya tersengal, dadanya naik turun keras. Kepalanya menunduk, rambutnya yang basah oleh keringat menutupi wajahnya. Pikiran bercampur aduk, antara ketakutan, kemarahan, dan kecemasan. Tanpa dia sadari, karena takut, dia tidak mengontrol kekuatannya saat berlari dan menggunakan sebagian besar kekuatannya untuk melarikan diri meninggalkan rekan-rekannya.

Selang satu dupa, rekan-rekannya yang lain berhasil menyusulnya. Wajah mereka seperti pemimpinnya, nafas tersengal dengan keringat membanjiri tubuh mereka.

"Baihuan Ming, akhirnya kami bisa menyusulmu. Bagaimana sekarang? kita pasti akan menerima hukuman jika tidak membawa banyak orang untuk diserahkan," Sebuah suara tedengar dari salah satu anak buahnya. Ia adalah teman dekat Baihuan Ming, orang yang selalu berada di sisinya sejak lama, meski dalam struktur kelompok dia hanyalah bawahan. Nada suaranya terdengar cemas, matanya menatap pemimpinnya dengan resah.

Baihuan Ming menggertakkan giginya. "Paman Baihuan Jian sudah pergi. Dia saja bisa dikalahkan dengan mudah oleh makhluk itu, apalagi kita. Aku bukan penakut... tapi aku tidak mau mati konyol melawan iblis yang tidak mungkin dikalahkan."

"Mungkin... iblis itu kekuatannya melebihi Immortal. Pamanku menyadarinya dan melarikan diri karena tidak mampu menghadapinya." gumam Baihuan Ming, suaranya serak, hampir tak terdengar.

Seorang anggota lain mendekat, wajahnya pucat, suaranya berbisik lirih. "Melebihi Immortal? Mungkinkah... seperti yang pernah dikatakan Ketua? Makhluk itu sudah berada di ranah Dewa? Tapi bagaimana mungkin, bukankah katanya hanya ranah tingkat Immortal yang bisa berada di dunia ini."

"Mungkin seperti iblis yang menyerang tempat kita sebelumnya, wanita yang memanggil mereka ke dunia ini memiliki cara untuk membuat mereka berada di tempat ini." kata yang lainnya.

Teman dekatnya berkata pelan,"Baihuan Ming, dia tidak mengejar kita dan melepaskan kita begitu saja. Mungkinkah dia mengincar mereka juga sama seperti kita?"

Mereka memikirkan segala kemungkinan, bahkan salah satu dari mereka berpikir kekuatan wanita itu terbatas sehingga meski kuat, mahkluk itu tidak bisa bertahan lama di dunia ini melawan mereka semua. Meski mereka memiliki banyak dugaan, tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk kembali dan melawannya.

"Iblis Ranah Dewa..." Baihuan Ming terdiam, tatapannya kosong menembus gelap hutan. Kata-kata itu bergaung di benaknya, menambah berat pikiran. Iblis itu telah merusak rencananya, menghancurkan kepercayaan dirinya. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat, hingga buku jarinya memutih. "Kita harus segera pergi dari sini agar tidak bertemu dengannya lagi."

Teman dekatnya menatapnya lekat-lekat. "Kita kemana sekarang? Kamu ditunjuk untuk memimpin kelompok ini. Berhasil atau gagalnya misi kali ini... semuanya ada di pundakmu."

Baihuan Ming terdiam sejenak, menelan rasa pahit di tenggorokannya. Lalu ia mengangkat wajahnya, sorot matanya tajam meski tubuhnya masih gemetar. "Kita cari desa lain. Selama kita membawa banyak hasil tangkapan, misi kita belum dianggap gagal." Ia menoleh ke satu arah, seakan matanya bisa menembus pepohonan lebat di kejauhan. "Ikuti aku!"

Dengan satu hentakan kaki, tubuhnya melesat pergi melewati rimbunnya hutan-hitan. Suara angin mendesing saat gerakan mereka dengan cepat menembus hutan yang mulai senja. Di belakangnya, belasan anak buahnya segera mengikuti, formasi mereka terpecah namun berusaha tetap rapat. Semua menuruti perintah, meski hati mereka masih dibalut rasa takut akan sosok iblis hijau-hitam yang baru saja mereka saksikan.

Sementara itu, melihat kawanan perampok melarikan diri, Lynx bernapas lega dan memandang ke arah para pedagang dan yang lainnya. Wajah mereka terlihat sangat pucat ketakutan. Bahkan Lynx merasa, satu kata darinya dapat membuat beberapa dari mereka terkena serangan jantung. Dia merasa bingung harus bertindak seperti apa. 

Para pengawal dan murid sekte Akar Kehidupan yang sudah memulihkan sedikit kekuatan mereka berdiri dengan susah payah. Pedang terhunus di depan dada dengan aura qi spiritual memancar dari tubuh mereka. 

"Kami tidak akan diam dibunuh begitu saja tanpa perlawanan." kata salah satu dari mereka dengan napas tersengal menahan nyeri.

Lynx yang merasa terpukul menundukkan kepala. Dia mengepalkan tangannya karena kesal,"Aku tidak bisa membayangkan jika Leena dan Lala mengetahui apa yang sudah terjadi kepadaku, mereka pasti menertawakanku." bisiknya sedih.  

Lynx menatap sekelompok orang di hadapannya yang terlihat ketakutan dan berusaha mempertahankan diri, sebagian besar dari mereka terluka karena dampak teknik yang dikeluarkan oleh para penjahat. Lynx menatap benda kecil ditangannya, sebuah tanda pengenal yang dia ambil dari tubuh pria tua yang menyerangnya tanpa orang itu sadari. Lynx menyimpannya di cincin penyimpanan dan mengeluarkan beberapa botol pil.

Dengan gerakan cepat, dia melompat kembali ke tempat Ou Ruoyun menanti dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Rencana awalnya untuk mendapatkan informasi berubah saat mengetahui sikap rombongan yang terlihat sangat takut terhadapnya.

"Dia pergi." kata pimpinan pengawal Elang Emas.

"Tetap waspada. Mahluk itu tidak mungkin pergi begitu saja." kata salah satu murid sekte Akar Kehidupan. Matanya mengawasi setiap pergeraan dari pohon ke pohon.

"Kalian lihat, kawanan perampok tadi terlihat sangat ketakutan dengan mahluk itu?" kata murid lainnya.

"Iya benar, mahluk iblis tadi sangat menyeramkan tapi tidak seharusnya kawanan perampok bersikap sangat ketakutan seperti itu? Mungkinkah mereka pernah saling berhadapan sebelumnya." kata pemimpin pengawal Elang Emas sambil fokus memperhatikan sekitar. Ketegangan menyelimuti mereka semua yang ada di sana.

Setelah beberapa waktu berlalu dan tidak ada apapun yang terjadi, akhirnya mereka semua bernapas lega. Salah satu dari mereka menemukan beberapa botol kaca kecil di tempat mahkluk itu berada sebelumnya.

"Apa ini?"

Salah satu murid sekte Akar Kehidupan mendekat dan memeriksa."Ini... Pil pemulihan tingkat tinggi... tingkat tiga." katanya dengan kaget.

"Mungkinkah mahluk iblis tadi menolong kita?" kata salah satu dari mereka.

"Tunggu... bukankah kawanan perampok tadi mengatakan Iblis itu berada di ranah dewa. Apakah ada ranah dewa? ranah diatas immortal?"

Tanpa Lynx sadari, sejak kejadian tersebut, nama Iblis Ranah Dewa menyebar keseluruh pelosok. Seperti halnya cerita lain yang selalu di bumbui dari mulut ke mulut, begitu juga Iblis Ranah Dewa, berbagai versi cerita bermunculan. Sebagian menceritakan sebagai penyelamat dan sebagian lain menganggap sebagai penghancur. Namun apapun itu, di dunia kultivasi kehidupan tenang para kultivator mulai bergejolak dengan kemunculan mahluk kuat di atas ranah immortal.
